hujan

Selasa, 22 Juli 2014

Story of My Life 2 [Ichak 2]



Story of My Life itu sepenggal- sepenggal(?) cerita dari kehidupanku. Ada senengnya, ada mirisnya. Nano nano deh pokoknya. Maaf kalau ada salah kata dalam menulis cerita ini. Silahkan dinikmati(?)  XD




Aku masih mengingatnya. Kejadian di hari itu. Aku menaruh tasku kemudian pergi ke tengah lapangan untuk berlatih. Ada suatu permasalahan disitu,yang membuatku memutuskan untuk mengundurkan diri dari latihan ini. Mendapati diriku yang tengah terduduk lesu, dia datang menghampiriku. Iya, waktu itu hanya dia yang memperhatikanku. Menyemangati dan menyuruhku untuk kembali berlatih lagi. Akan tetapi aku menolaknya dengan tegas. Dia, yang saat itu tengah duduk di sampingku mengganti posisi duduknya dengan bersandar di punggungku. “Maumu apa?” Ujarku. “Ke sana aja sendiri kalau mau liat mereka berlatih, tinggalkan aku. Aku gak sehebat dia, biarkanlah dia menggantikan posisiku. Kalau aku terus di sana, mereka malah gak bakalan selesai-selesai ntar.” Ujarku lagi sambil mengeluarkan ponselku dan memainkannya. Kemudian dia merebut ponselku. “Oh ayolah, aku sedang tidak bersemangat.” Ujarku sambil mencoba merebut ponselku kembali. “Semangat Cendy.  Ntar aku sita lho hpnya kalau kamu menyendiri kayak gini. Ayo ikut kumpul ke sana.” Ucapnya. “Ayolah, tau kan posisiku sekarang kayak gimana.” Ujarku lirih. “Iya, aku tau.” Jawabnya sambil merangkulku. “Yaudah, sini balikin hpku. Kamu aja yang ke sana. Biarin aku di sini dulu.” Ujarku. “Kamu tau, aku udah janji sama diriku sendiri gak akan pernah ninggalin kamu sendirian.” Ucapnya sambil mengembalikan ponselku dan melepaskan rangkulannya dariku. Dia terdiam. Aku pun juga demikian. Mataku berkaca-kaca. “Benarkah yang diucapkannya tadi?” Batinku. 
Cukup lama kami terdiam dalam lamunan masing-masing. “Menurutmu aku ini ngeselin kan.” Ujarnya memecahkan keheningan diantara kami berdua. “Ha?” Jawabku tak mengerti. “Iya, menurutmu aku ngeselin kan?” Dia mengulangi kalimat tadi. “Kak, kamu itu gak ngeselin kok.” Ucapku. “Kamulah yang membuat hati yang telah remuk ini menjadi utuh kembali.” Timpalku lagi, tapi kali ini aku  hanya berani mengucapkan dalam hati.  Dia masih terdiam. “Kamu kenapa kak?” Ujarku lagi. “Gak papa kok.” Jawabnya. Selang beberapa menit dia sudah tidak ada disebelahku lagi. Pergi tanpa aku ketahui. Aku menoleh ke kanan dan ke kiri aku tetap tidak melihat sosoknya. Kemudian aku berlari ke tempat kami menaruh tas tadi, yang ternyata sudah ada teman-temanku yang lain. Dan dirinya juga terlihat di sana. Dia sedang mengemasi barang-barangnya yang kemudian dia berpamitan dengan teman-temanku. Dia pulang tanpa berpamitan denganku padahal dia tadi sempat menoleh ke arahku.Aku yang saat itu tengah kacau pikirannya memutuskan untuk pulang. Setelah berpamitan dengan mereka, aku pulang dengan berjalan kaki. Di sepanjang jalan yang aku pikirkan hanyalah rasa bersalahku terhadap mereka dan juga kepada dirinya. Aku merusak apa yang mereka telah percayakan kepadaku. Iya, aku merusaknya karena sifat kekanak-kanakan ku ini. Aku kehilangan dua kepercayaan diwaktu yang bersamaan. Apalagi rasa bersalahku kepada dia yang sudah menyemangatiku akan tetapi aku malah membuatnya kesal denganku. Dia yang selalu berusaha untuk menghiburku, akan tetapi aku malah mengecewakannya. “Maafkan aku.” Ucapku dalam hati sambil menitikan air mata di tengah rintikan hujan yang belum deras hari itu. Aku masih memikirkannya hingga sekarang tentang apa yang dia ucapkan di hari itu. Tentang janjinya yang tidak akan meninggalkanku sendirian. Apakah itu masi berlaku hingga sekarang? Ataukah itu hanya sekedarsemu belaka?