Story of My Life itu sepenggal- sepenggal(?) cerita dari kehidupanku. Ada senengnya, ada mirisnya. Nano nano deh pokoknya. Maaf kalau ada salah kata dalam menulis cerita ini. Silahkan dinikmati(?) XD
Aku masih
mengingatnya. Kejadian di hari itu. Aku menaruh tasku kemudian pergi ke tengah
lapangan untuk berlatih. Ada suatu permasalahan disitu,yang membuatku
memutuskan untuk mengundurkan diri dari latihan ini. Mendapati diriku yang
tengah terduduk lesu, dia datang menghampiriku. Iya, waktu itu hanya dia yang
memperhatikanku. Menyemangati dan menyuruhku untuk kembali berlatih lagi. Akan
tetapi aku menolaknya dengan tegas. Dia, yang saat itu tengah duduk di
sampingku mengganti posisi duduknya dengan bersandar di punggungku. “Maumu
apa?” Ujarku. “Ke sana aja sendiri kalau mau liat mereka berlatih, tinggalkan
aku. Aku gak sehebat dia, biarkanlah dia menggantikan posisiku. Kalau aku terus
di sana, mereka malah gak bakalan selesai-selesai ntar.” Ujarku lagi sambil
mengeluarkan ponselku dan memainkannya. Kemudian dia merebut ponselku. “Oh
ayolah, aku sedang tidak bersemangat.” Ujarku sambil mencoba merebut ponselku
kembali. “Semangat Cendy. Ntar aku sita lho hpnya kalau kamu menyendiri
kayak gini. Ayo ikut kumpul ke sana.” Ucapnya. “Ayolah, tau kan posisiku
sekarang kayak gimana.” Ujarku lirih. “Iya, aku tau.” Jawabnya sambil
merangkulku. “Yaudah, sini balikin hpku. Kamu aja yang ke sana. Biarin aku di
sini dulu.” Ujarku. “Kamu tau, aku udah janji sama diriku sendiri gak akan
pernah ninggalin kamu sendirian.” Ucapnya sambil mengembalikan ponselku dan
melepaskan rangkulannya dariku. Dia terdiam. Aku pun juga demikian. Mataku
berkaca-kaca. “Benarkah yang diucapkannya tadi?” Batinku.
Cukup lama
kami terdiam dalam lamunan masing-masing. “Menurutmu aku ini ngeselin kan.”
Ujarnya memecahkan keheningan diantara kami berdua. “Ha?” Jawabku tak mengerti.
“Iya, menurutmu aku ngeselin kan?” Dia mengulangi kalimat tadi. “Kak, kamu itu
gak ngeselin kok.” Ucapku. “Kamulah yang membuat hati yang telah remuk ini
menjadi utuh kembali.” Timpalku lagi, tapi kali ini aku hanya berani
mengucapkan dalam hati. Dia masih terdiam. “Kamu kenapa kak?” Ujarku
lagi. “Gak papa kok.” Jawabnya. Selang beberapa menit dia sudah tidak ada disebelahku
lagi. Pergi tanpa aku ketahui. Aku menoleh ke kanan dan ke kiri aku tetap tidak
melihat sosoknya. Kemudian aku berlari ke tempat kami menaruh tas tadi, yang
ternyata sudah ada teman-temanku yang lain. Dan dirinya juga terlihat di sana.
Dia sedang mengemasi barang-barangnya yang kemudian dia berpamitan dengan
teman-temanku. Dia pulang tanpa berpamitan denganku padahal dia tadi sempat
menoleh ke arahku.Aku yang saat itu tengah kacau pikirannya memutuskan untuk
pulang. Setelah berpamitan dengan mereka, aku pulang dengan berjalan kaki. Di
sepanjang jalan yang aku pikirkan hanyalah rasa bersalahku terhadap mereka dan
juga kepada dirinya. Aku merusak apa yang mereka telah percayakan kepadaku.
Iya, aku merusaknya karena sifat kekanak-kanakan ku ini. Aku kehilangan dua
kepercayaan diwaktu yang bersamaan. Apalagi rasa bersalahku kepada dia yang
sudah menyemangatiku akan tetapi aku malah membuatnya kesal denganku. Dia yang
selalu berusaha untuk menghiburku, akan tetapi aku malah mengecewakannya.
“Maafkan aku.” Ucapku dalam hati sambil menitikan air mata di tengah rintikan
hujan yang belum deras hari itu. Aku masih memikirkannya hingga sekarang
tentang apa yang dia ucapkan di hari itu. Tentang janjinya yang tidak akan
meninggalkanku sendirian. Apakah itu masi berlaku hingga sekarang? Ataukah itu
hanya sekedarsemu belaka?