hujan

Senin, 15 September 2014

Story of My Life 4 [Orang baik?]



Dari lama  aku pengen banget bias move on. Pengen banget. Tapi kelihatannya lama nih move onnya. Eh, bias sih lebih cepat. Sebenarnya, ada sih orang yang aku suka sekarang ini. Bukan suka ding, cumin aku nyaman aja sama dia. Orangnya itu baik, mandiri, dewasa. Pokoknya dimataku dia sempurna lah. Siapa sih yang gak suka sama orang yang mempunyai kepribadian seperti itu. Aku pernah mendengar ceritanya. Cerita tentang dia ngerasa bersalah sama orang lain karena dia selalu baik sama orang lain dan itu mungkin bisa ngebuat orang lain jadi salah sangka. Terutama kalau ke cewek. Dan menurutku, dia gak salah. Iya, gak salah kalau dia punya sifat seperti itu. Karena hidup jadi orang baik itu memang susah. Aku bisa ngomong kaya gini karena aku pernah ngalaminnya. Dikira php-lah, atau apalah itu. Makanya aku bilang dia gak salah kalau peduli sama orang lain terutama ke lawan jenisnya. Dia gak salah! Orang-orang yang salah mengartikan kebaikannya lah yang salah. *tears*
                Akupun gak berharap lebih kok, tentang dia bisa menyukaiku. Karena kehidupanku, kepribadianku berbanding terbalik jika dibandingkan dengannya. Karena aku tau, aku punya banyak sifat jelek. Seperti  ketika aku sedang ngomong. Kalau ngomong keras dan kasar. Aku pun gak kalem, gak feminim, suka marah-marah. Beda sama cewek kebanyakan. Mana mungkin kan, dia yang seperti itu menyukai diriku..
                Aku sebenarnya bisa berubah. Jadi apa yang mereka mau. Jadi apa yang kalian inginkan.. Dan hal itu akan membuat kalian lebih nyaman berada didekatku. Jadi cewek yang lemah lembut, kalau ngomong gak keras dan gak kasar.  Mungkin bagi kalian itu akan membuat kalian nyaman. Lalu bagaimana denganku? Ketika aku berubah jadi apa yang kalian inginkan dan aku malah gak nyaman sama perubahaanku ini. Dan aku malah risih dengan diriku sendiri. Gimana dong? Jadi tambah  stress kalau gitu.. Now, Let me be my self. Biarkan aku seperti ini dulu. Aku ingin berubah, tapi gak secara instant .. perlahan-lahan. Dan gak tau kapan aku akan memulainya..

Selasa, 05 Agustus 2014

Story of My Life 3 [Ichak 3]


Aku benar-benar mengkhawatirkannya. Di hari itu, Acara kumpul pukul 12.00 WIB. waktu menunjukkan pukul 16.00 WIB. Padahal ia sudah berjanji kepadaku akan datang pukul 14.00 WIB. Aku menelpon nomernya. Berulang kali aku menelponnya, namun tidak diangkatnya. chatting lewat akun facebooknya pun dia tak kunjung membacanya. Aku mulai  panik sendiri. Mataku berkaca-kaca. Aku menggigit ibu jariku sambil memikirkan hal-hal buruk yang terjadi padanya. Temanku pun mulai bertanya kepadaku apa yang sedang terjadi. “Aku khawatir akan hal buruk yang mungkin saja menimpa dirinya” jawabku ketika ditanya akan hal itu. Aku terus menunggunya. Hingga akhirnya ada 1 pesan di handphone ku. “Semoga dari dirinya” Ucapku sambil membuka pesan tersebut. “Maaf, aku ketiduran, aku baru bangun nih. Bentar lagi aku otw.” Isi pesan tersebut, yang ternyata dari dirinya.
Selang beberapa menit kemudian ada orang yang mengendarai motor datang memakirkannya. Samar-samar aku melihatnya dari kejauhan, ternyata itu dirinya. Setelah memarkirkannya dia datang menghampiri kami. Dia melihat diriku, tetapi mengabaikan keberadaanku. Iya, dia menghiraukanku. Dia duduk di sebelah temanku yang tempatnya lumayan jauh dari tempat di mana aku duduk. Rasanya itu aku ingin menangis. Sakit sekali rasanya. Tapi tidak apa-apa,  aku senang. Bersyukur dia tidak kenapa-kenapa. Setelah beberapa saat  kami sibuk dengan  kegiatan masing-masing, aku nekat menyeret dia untuk duduk disampingku. Yup, aku memang orang yang seperti itu jadi dia gak masalah akan hal itu. “Kami butuh bantuanmu untuk membuat desain ini.” Ujarku. “Iya iya.” Jawabnya. Lalu dia mengerjakannya. Dia selalu mengusili ku. Kadang dia menjambak rambutku, dan masih banyak hal lainnya deh. “Aku tidur disini ya.” Ujarku sambil akan menyandarkan ke bahunya yang bermaksud untuk mengusilinya. “Ah jangan OwO .” Dia menghindar, tapi aku malah jatuh dan tidur dipangkuannya. “Anu, maaf.” Ucapku memperbaiki sikap dudukku. “Kalian itu pacaran?” Ucap salah satu teman kami. “Gak, kita kan kakak adik.” Jawabku yang keliatannya serius. “Tapi kalian itu keliatan kayak orang pacaran loh.” Jawab temanku. Aku memalingkan wajahku dari hadapan temanku itu. “Maunya sih begitu, tetapi.. ah sudahlah.” Ucapku dalam hati.
Ketika menjelang petang, kami memutuskan untuk bersiap-siap pulang. “Woy, kamu masih ada hutang lho denganku.” Ucapku . “Ah, aku lagi gak ada duit. OAO.” Jawabnya kebingungan. “Bukan duit kok..” Jawabku. “Lalu apa? Aku beneran lupa.” Jawabnya. Entah cuman pura-pura lupa atau gimana aku tak tahu. Aku meninggalkannya, dan mengobrol dengan yang lainnya. Dan tiba-tiba dia datang memelukku dari belakan. Aku kaget setengah mati. Aku kira siapa, ternyata Dia yang memelukku. Aku ingin nangis waktu itu. Bahagia sekali. “Woy dodol, jangan dicekik. Aku mati ntar.” Ucapku sambil terbatuk-batuk. “Biarin aja.” Jawabnya  sambil tertawa. Tetapi hari itu aku bahagia. Aku masih ingat sekali kehangatannya di malam itu. Masih teringat sampai sekarang. Dan entah kapan aku bahagia seperti itu lagi.

Selasa, 22 Juli 2014

Story of My Life 2 [Ichak 2]



Story of My Life itu sepenggal- sepenggal(?) cerita dari kehidupanku. Ada senengnya, ada mirisnya. Nano nano deh pokoknya. Maaf kalau ada salah kata dalam menulis cerita ini. Silahkan dinikmati(?)  XD




Aku masih mengingatnya. Kejadian di hari itu. Aku menaruh tasku kemudian pergi ke tengah lapangan untuk berlatih. Ada suatu permasalahan disitu,yang membuatku memutuskan untuk mengundurkan diri dari latihan ini. Mendapati diriku yang tengah terduduk lesu, dia datang menghampiriku. Iya, waktu itu hanya dia yang memperhatikanku. Menyemangati dan menyuruhku untuk kembali berlatih lagi. Akan tetapi aku menolaknya dengan tegas. Dia, yang saat itu tengah duduk di sampingku mengganti posisi duduknya dengan bersandar di punggungku. “Maumu apa?” Ujarku. “Ke sana aja sendiri kalau mau liat mereka berlatih, tinggalkan aku. Aku gak sehebat dia, biarkanlah dia menggantikan posisiku. Kalau aku terus di sana, mereka malah gak bakalan selesai-selesai ntar.” Ujarku lagi sambil mengeluarkan ponselku dan memainkannya. Kemudian dia merebut ponselku. “Oh ayolah, aku sedang tidak bersemangat.” Ujarku sambil mencoba merebut ponselku kembali. “Semangat Cendy.  Ntar aku sita lho hpnya kalau kamu menyendiri kayak gini. Ayo ikut kumpul ke sana.” Ucapnya. “Ayolah, tau kan posisiku sekarang kayak gimana.” Ujarku lirih. “Iya, aku tau.” Jawabnya sambil merangkulku. “Yaudah, sini balikin hpku. Kamu aja yang ke sana. Biarin aku di sini dulu.” Ujarku. “Kamu tau, aku udah janji sama diriku sendiri gak akan pernah ninggalin kamu sendirian.” Ucapnya sambil mengembalikan ponselku dan melepaskan rangkulannya dariku. Dia terdiam. Aku pun juga demikian. Mataku berkaca-kaca. “Benarkah yang diucapkannya tadi?” Batinku. 
Cukup lama kami terdiam dalam lamunan masing-masing. “Menurutmu aku ini ngeselin kan.” Ujarnya memecahkan keheningan diantara kami berdua. “Ha?” Jawabku tak mengerti. “Iya, menurutmu aku ngeselin kan?” Dia mengulangi kalimat tadi. “Kak, kamu itu gak ngeselin kok.” Ucapku. “Kamulah yang membuat hati yang telah remuk ini menjadi utuh kembali.” Timpalku lagi, tapi kali ini aku  hanya berani mengucapkan dalam hati.  Dia masih terdiam. “Kamu kenapa kak?” Ujarku lagi. “Gak papa kok.” Jawabnya. Selang beberapa menit dia sudah tidak ada disebelahku lagi. Pergi tanpa aku ketahui. Aku menoleh ke kanan dan ke kiri aku tetap tidak melihat sosoknya. Kemudian aku berlari ke tempat kami menaruh tas tadi, yang ternyata sudah ada teman-temanku yang lain. Dan dirinya juga terlihat di sana. Dia sedang mengemasi barang-barangnya yang kemudian dia berpamitan dengan teman-temanku. Dia pulang tanpa berpamitan denganku padahal dia tadi sempat menoleh ke arahku.Aku yang saat itu tengah kacau pikirannya memutuskan untuk pulang. Setelah berpamitan dengan mereka, aku pulang dengan berjalan kaki. Di sepanjang jalan yang aku pikirkan hanyalah rasa bersalahku terhadap mereka dan juga kepada dirinya. Aku merusak apa yang mereka telah percayakan kepadaku. Iya, aku merusaknya karena sifat kekanak-kanakan ku ini. Aku kehilangan dua kepercayaan diwaktu yang bersamaan. Apalagi rasa bersalahku kepada dia yang sudah menyemangatiku akan tetapi aku malah membuatnya kesal denganku. Dia yang selalu berusaha untuk menghiburku, akan tetapi aku malah mengecewakannya. “Maafkan aku.” Ucapku dalam hati sambil menitikan air mata di tengah rintikan hujan yang belum deras hari itu. Aku masih memikirkannya hingga sekarang tentang apa yang dia ucapkan di hari itu. Tentang janjinya yang tidak akan meninggalkanku sendirian. Apakah itu masi berlaku hingga sekarang? Ataukah itu hanya sekedarsemu belaka?