Aku
benar-benar mengkhawatirkannya. Di hari itu, Acara kumpul pukul 12.00 WIB. waktu
menunjukkan pukul 16.00 WIB. Padahal ia sudah berjanji kepadaku akan datang
pukul 14.00 WIB. Aku menelpon nomernya. Berulang kali aku menelponnya, namun tidak
diangkatnya. chatting lewat akun facebooknya pun dia tak kunjung membacanya.
Aku mulai panik sendiri. Mataku
berkaca-kaca. Aku menggigit ibu jariku sambil memikirkan hal-hal buruk yang
terjadi padanya. Temanku pun mulai bertanya kepadaku apa yang sedang terjadi. “Aku
khawatir akan hal buruk yang mungkin saja menimpa dirinya” jawabku ketika
ditanya akan hal itu. Aku terus menunggunya. Hingga akhirnya ada 1 pesan di
handphone ku. “Semoga dari dirinya” Ucapku sambil membuka pesan tersebut. “Maaf,
aku ketiduran, aku baru bangun nih. Bentar lagi aku otw.” Isi pesan tersebut, yang
ternyata dari dirinya.
Selang
beberapa menit kemudian ada orang yang mengendarai motor datang memakirkannya. Samar-samar aku melihatnya dari kejauhan, ternyata itu dirinya. Setelah memarkirkannya dia datang
menghampiri kami. Dia melihat diriku, tetapi mengabaikan keberadaanku. Iya, dia
menghiraukanku. Dia duduk di sebelah temanku yang tempatnya lumayan jauh dari
tempat di mana aku duduk. Rasanya itu aku ingin menangis. Sakit sekali rasanya.
Tapi tidak apa-apa, aku senang. Bersyukur
dia tidak kenapa-kenapa. Setelah beberapa saat kami sibuk dengan kegiatan masing-masing, aku nekat menyeret
dia untuk duduk disampingku. Yup, aku memang orang yang seperti itu jadi dia
gak masalah akan hal itu. “Kami butuh bantuanmu untuk membuat desain ini.”
Ujarku. “Iya iya.” Jawabnya. Lalu dia mengerjakannya. Dia selalu mengusili ku. Kadang
dia menjambak rambutku, dan masih banyak hal lainnya deh. “Aku tidur disini ya.”
Ujarku sambil akan menyandarkan ke bahunya yang bermaksud untuk mengusilinya. “Ah
jangan OwO .” Dia menghindar, tapi aku malah jatuh dan tidur dipangkuannya. “Anu,
maaf.” Ucapku memperbaiki sikap dudukku. “Kalian itu pacaran?” Ucap salah satu
teman kami. “Gak, kita kan kakak adik.” Jawabku yang keliatannya serius. “Tapi
kalian itu keliatan kayak orang pacaran loh.” Jawab temanku. Aku memalingkan
wajahku dari hadapan temanku itu. “Maunya sih begitu, tetapi.. ah sudahlah.”
Ucapku dalam hati.
Ketika
menjelang petang, kami memutuskan untuk bersiap-siap pulang. “Woy, kamu masih
ada hutang lho denganku.” Ucapku . “Ah, aku lagi gak ada duit. OAO.” Jawabnya
kebingungan. “Bukan duit kok..” Jawabku. “Lalu apa? Aku beneran lupa.” Jawabnya.
Entah cuman pura-pura lupa atau gimana aku tak tahu. Aku meninggalkannya, dan
mengobrol dengan yang lainnya. Dan tiba-tiba dia datang memelukku dari belakan.
Aku kaget setengah mati. Aku kira siapa, ternyata Dia yang memelukku. Aku ingin
nangis waktu itu. Bahagia sekali. “Woy dodol, jangan dicekik. Aku mati ntar.”
Ucapku sambil terbatuk-batuk. “Biarin aja.” Jawabnya sambil tertawa. Tetapi hari itu aku bahagia.
Aku masih ingat sekali kehangatannya di malam itu. Masih teringat sampai
sekarang. Dan entah kapan aku bahagia seperti itu lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar