hujan

Selasa, 05 Agustus 2014

Story of My Life 3 [Ichak 3]


Aku benar-benar mengkhawatirkannya. Di hari itu, Acara kumpul pukul 12.00 WIB. waktu menunjukkan pukul 16.00 WIB. Padahal ia sudah berjanji kepadaku akan datang pukul 14.00 WIB. Aku menelpon nomernya. Berulang kali aku menelponnya, namun tidak diangkatnya. chatting lewat akun facebooknya pun dia tak kunjung membacanya. Aku mulai  panik sendiri. Mataku berkaca-kaca. Aku menggigit ibu jariku sambil memikirkan hal-hal buruk yang terjadi padanya. Temanku pun mulai bertanya kepadaku apa yang sedang terjadi. “Aku khawatir akan hal buruk yang mungkin saja menimpa dirinya” jawabku ketika ditanya akan hal itu. Aku terus menunggunya. Hingga akhirnya ada 1 pesan di handphone ku. “Semoga dari dirinya” Ucapku sambil membuka pesan tersebut. “Maaf, aku ketiduran, aku baru bangun nih. Bentar lagi aku otw.” Isi pesan tersebut, yang ternyata dari dirinya.
Selang beberapa menit kemudian ada orang yang mengendarai motor datang memakirkannya. Samar-samar aku melihatnya dari kejauhan, ternyata itu dirinya. Setelah memarkirkannya dia datang menghampiri kami. Dia melihat diriku, tetapi mengabaikan keberadaanku. Iya, dia menghiraukanku. Dia duduk di sebelah temanku yang tempatnya lumayan jauh dari tempat di mana aku duduk. Rasanya itu aku ingin menangis. Sakit sekali rasanya. Tapi tidak apa-apa,  aku senang. Bersyukur dia tidak kenapa-kenapa. Setelah beberapa saat  kami sibuk dengan  kegiatan masing-masing, aku nekat menyeret dia untuk duduk disampingku. Yup, aku memang orang yang seperti itu jadi dia gak masalah akan hal itu. “Kami butuh bantuanmu untuk membuat desain ini.” Ujarku. “Iya iya.” Jawabnya. Lalu dia mengerjakannya. Dia selalu mengusili ku. Kadang dia menjambak rambutku, dan masih banyak hal lainnya deh. “Aku tidur disini ya.” Ujarku sambil akan menyandarkan ke bahunya yang bermaksud untuk mengusilinya. “Ah jangan OwO .” Dia menghindar, tapi aku malah jatuh dan tidur dipangkuannya. “Anu, maaf.” Ucapku memperbaiki sikap dudukku. “Kalian itu pacaran?” Ucap salah satu teman kami. “Gak, kita kan kakak adik.” Jawabku yang keliatannya serius. “Tapi kalian itu keliatan kayak orang pacaran loh.” Jawab temanku. Aku memalingkan wajahku dari hadapan temanku itu. “Maunya sih begitu, tetapi.. ah sudahlah.” Ucapku dalam hati.
Ketika menjelang petang, kami memutuskan untuk bersiap-siap pulang. “Woy, kamu masih ada hutang lho denganku.” Ucapku . “Ah, aku lagi gak ada duit. OAO.” Jawabnya kebingungan. “Bukan duit kok..” Jawabku. “Lalu apa? Aku beneran lupa.” Jawabnya. Entah cuman pura-pura lupa atau gimana aku tak tahu. Aku meninggalkannya, dan mengobrol dengan yang lainnya. Dan tiba-tiba dia datang memelukku dari belakan. Aku kaget setengah mati. Aku kira siapa, ternyata Dia yang memelukku. Aku ingin nangis waktu itu. Bahagia sekali. “Woy dodol, jangan dicekik. Aku mati ntar.” Ucapku sambil terbatuk-batuk. “Biarin aja.” Jawabnya  sambil tertawa. Tetapi hari itu aku bahagia. Aku masih ingat sekali kehangatannya di malam itu. Masih teringat sampai sekarang. Dan entah kapan aku bahagia seperti itu lagi.