Hidup
sebagai seorang gadis, seolah-olah keberadaannya dianggap ada oleh orang di
sekitarnya. Dengan berpura-pura tetap tegar dia selalu memasang senyum lebar di
wajahnya. Yang berusaha sekuat mungkin dapat memikul beban berat di pundak
kecilnya. Kau paham akan hal itu?
Hidup hanya
untuk kepentingan orang lain. Terus menerus dilakukannya tetapi dia tetap memilih untuk terus
hidup dan berharap suatu saat nanti dapat menemukan tujuan tentang mengapa dia
memilih jalan itu.
Selalu ingin
menjadi orang baik namun semua hanyalah kemunafikannya karena telah terlahir di
dunia ini. Hanya dapat berpura - pura menjadi orang baik agar semua orang
yang berada di sekelilingnya bahagia walaupun dirinya sendiri merasa bersalah bila melakukan hal itu.
Gadis yang
selalu mencari seseorang yang dapat dijadikannya alasan mengapa dia dapat
bertahan hidup di dunia yang begitu kejam dan mengerikan ini. Dia akan
tetap mencari walaupun pada akhirnya ditinggalkan lagi dan lagi.
Boro-boro
untuk memikirkan tentang masa depan. Tahun besok, bahkan keesokan harinya
pun tak tahu harus melakukan apa. Tapi dia akan tetap berjuang terus menerus hingga
dapat temukan orang tersebut. Jika kehilangan, dia hanya akan mencari lagi
dan lagi.
Terkadang
bersayap dan terkadang juga bertanduk. Layaknya manusia yang mempunyai
dua kepribadian dalam tubuhnya yang mungil itu. Ketika tanduk itu muncul,
sebisa mungkin untuk menahan diri walaupun pada akhirnya dia akan terluka. Membayangkan
saja sudah membuatnya merasa sedih. Ketika merasa menyakiti orang lain, dia hanya bisa menangis.. menyesalinya hingga tertidur lelap dalam dunia
penuh kegelapan yang dibuatnya. Ketika menengok ke belakang, mengingat segala hal yang telah terjadi. Dia hanya
bergumam, “Ya ampun. Lucu sekali” Sambil tersenyum sengit, menangis kemudian.
Di saat
melihat orang lain dapat tertawa terbahak-bahak, dia mengrenyitkan dahi lalu
berkata “Oh ayolah, aku tahu kamu tak sebahagia itu. Atau kamu akan merasakan
sakit yang luar biasa jika kamu terus menumpuknya seperti itu”. Mungkin semua perkataannya tadi hanya cerminan atas dirinya sendiri.
Tetapi
mengapa ia tetap memilih untuk terus hidup? Dia tidak pernah mengatakan tidak ingin hidup. Hanya saja
dia tak tau apa yang harus dikerjakannya dan apa yang akan digapainya. Dia
terus mencari hal yang dapat dijadikan sebuah mimpi dan berharap suatu saat
nanti dapat diwujudkanya..