hujan

Jumat, 30 November 2018

Story of My Life 11 ( Hal yang paling ku takuti)

Aku cuman cewek biasa, nyaris tak ada istimewanya sama sekali. Namun aku memiliki seorang kekasih dan bagiku, dia terlalu jauh untuk digapai. Boro-boro untuk digapai, berdiri sejajarnya pun aku tak bisa. Aku memang tak memiliki apa-apa. Tak ada yang bisa dibanggakan dariku, percayalah.  Apapun yang ingin aku milikki, yang selalu aku impikan dari dulu semuanya kamu milikki. Semuanya.

Aku ingin sekali jadi seperti dirimu. Agar aku tak merasa minder berdiri disampingmu. Semua ketakutan ini terus menghantuiku. Kau paham akan rasanya takut tapi kamu tak bisa berbuat apa-apa karena kamu memang bukan siapa-siapa dimata orang-orang. Lalu sebenarnya aku ini apa?
Aku selalu merasa iri bahkan hanya seperti hal kecil ketika setiap kali kamu yang setiap kali  di telepon menanyakan kabar. Selalu di dukung atas apa yang kamu inginkan selagi hal itu dirasa baik untukmu. Sedangkan aku disini pendapatku selalu ditentang, disuruh untuk mengikuti kemauan mereka. Tapi ketika aku menuruti kemauan mereka, tetap di hina dan lebih parahnya ketika aku gagal. Aku akan dimaki-maki lalu ditinggal. Bagaimana mungkin aku sebesar ini tidak cacat mentalnya ? Oleh karena itu, aku sampai sebesar ini susah buat ambil keputusan sendiri. Takut. Beneran takut karena udah terbiasa ditakut-takutin sama orang-orang paling utama yang harusnya kasih support kamu tapi malah ngerusak mentalku.

Aku ingin merasakkan bagaimana disayangi oleh orang tua sendiri, diperlakukan dengan halus, ah aku sudah lama sekali pengen merasakan bagaimana rasanya dipeluk sama orang tua sendiri. Ibadah bersama-sama. Tapi semua itu hanya hayalan belaka. Tak kan pernah terwujud. Setiap hari yang ku saksikan hanya ke hampaan, salinng hinda, adu mulut, adu ego, dan baku hantam. Yang selalu memelukku mungkin hanya tangan mereka yang dulu pernah menamparku, memukulku, menendangku dan hal lain yang sampai berbekas dihatiku sampai sekarang. Berbanding terbalik dengan dirimu yang selalu di berikan kasih sayang bahkan sampai segitunya aku merasa iri denganmu. Kamu selalu ada tempat untuk pulang, disambut dengan kehangatan yang bisa dibuat oleh keluargamu. Sedangkan aku, harus pulang kemana? Kepangkuan Tuhan? Memangnya Tuhan masih mau menerimaku? hahaha..

Aku pun merasa minder sama kamu. Kamu orang baik. Banyak yang mau berteman denganmu. Banyak yang bisa kamu obrolin dengan teman-teman kamu. Aku ada teman, tapi entah pikiran apa yang telah mengacaukan pikiranku, terkadang aku merasa ya memang seharusnya aku tidak usah berteman dengan siapa-siapa karena aku emang sekarang susah buat komunikasi bahkan 2 minggu kemarin aku hanya bisa ngobrol sama kamu aja, aku juga full gak masuk kelas sama sekali karena memang "saking" takutnya ketemu orang. Aku minta maaf sama teman-teman kamu yang ngebuat merasa aku ngambil kamu dari teman-teman kamu, sekali lagi aku minta maaf. Maaf banget. Aku cuman butuh temen buat ngobrol. Aku gak ada maksud lain. Maafin aku.

Aku kesepian memang. Setiap malam aku sendirian, ya aku takut sendirian. Tapi aku lebih takut bertemu dengan orang lain. Lebih baik aku ngurung diri dirumah, nangis sampai besoknya gak tidur daripada aku keluar rumah, buat masalah lalu dikatain " katamu kamu mau mati? kapan matinya? Kok gak mati-mati?" Itu ngebuat aku trauma sampai sekarang. Iya aku tahu aku cari perhatian sana sini kok dan aku paham itu. Aku lakuin semua itu karena aku merasa kesepian. How pity I'am.. Aku masih inget, aku sampai bikin banyak akun palsu dan aku chatting dengan akun palsu ku itu. Saking kesepiannya.

Aku gak ada bakat sama sekali. Kamu ada dan aku senang sekali melihatnya. Ya aku tahu hal itu kamu dapatkan dari hasil belajarmu kan? Sedangkan aku, gak ada. Bagaimana aku bisa belajar? Waktu aku mau memulai sesuatu hal baru saja pasti sudah di "down"kan terlebih dahulu oleh orang tua ku. "Buktikkanlah kalau kamu bisa, jangan mengeluh terus!" hmm, mau tukeran posisi seminggu sama aku?

Hal yang aku takutkan? Aku tak bisa berdiri disampingmu. Aku takut takdir berkata demikian. Karena kamu orang baik, pasti dapatnya yang baik juga. Aku terlalu buruk, cacat banget sumpah. Gak ada harganya sama sekali, gak ada..









Tidak ada komentar:

Posting Komentar